Kantor SPPG di Jeneponto, Diduga Bagikan Daging “BUSUK” Untuk MBG di Binamu, Anggota Ngaku “Layak Konsumsi”

Kantor SPPG di Jeneponto, Diduga Bagikan Daging “BUSUK” Untuk MBG di Binamu, Anggota Ngaku “Layak Konsumsi”

Editor : Andi Arya /Bausad Nakku/Nur Asyiyah/Dirman

JENEPONTO, Beritakota Online – Program pemenuhan gizi adalah upaya pemerintah untuk memastikan kecukupan gizi masyarakat, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Selain pemenuhan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah merupakan upaya penting untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia dengan memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup.

Pemenuhan asupan gizi seharusnya meningkatkan kualitas untuk gizi anak sekolah di Kabupaten Jeneponto, Namun justru menuai sorotan. Karena diduga menggunakan daging busuk yang dibagikan kepada semua siswa ditingkat Sekolah PAUD, SD, SMP dan SMA, serta satu Kelurahan di Kecamatan Binamu.

Berdasarkan hasil temuan dilapangan oleh team lembaga Elang Hitam Nusantara Republik Indonesia (ELHAN RI), Selasa, (19/8/2025). Pendistribusian menu Burger yang disajikan dalam satu porsi makanan, diduga terdapat daging busuk yang tidak layak dikonsumsi.

Hal ini, dibenarkan oleh semua staf Kelurahan Empoang Kota, bahwa Pemenuhan gizi untuk menu makan bergizi gratis hari ini yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Binamu, sama sekali tidak layak dikonsumsi. Jadi jangankan kami para orangtua dewasa, sedangkan semua anak usia dini PAUD saja tidak ada yang mau memakannya, karena baunya sangat menyengat dan tidak sedap, apalagi ingin dikonsumsi. Tentunya bukan mendapatkan asupan gizi makanan sehat malah justru akan mengakibatkan penyakit.”ungkap para staf kelurahan Empoang Kota

Sementara itu, Kepala Kantor Yayasan Naranu Bangun Bangsa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di Jalan Ishak Iskandar Kelurahan Empoang Kota Kecamatan Binamu, Nur Ikhsan tidak membantah tudingan terkait kondisi temuan dilapangan untuk pendistribusian Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menggunakan daging busuk dan tidak layak dikonsumsi tersebut.

Nur Ikhsan, mengakui bahwa bahan baku yang digunakan pada persiapan menu gizi untuk dibagikan di Kecamatan Binamu, sehingga menjadi keluhan dan sorotan dari masyarakat maupun orangtua anak usia dini PAUD Hingga ke tingkat Sekolah Menengah Atas. Hal ini merupakan akibat dari kelalaian kami, mulai pada saat proses pengolahan didapur dan penyortiran hingga pendistribusian dilapangan. “kata Nur Ikhsan saat dikonfirmasi di Kantor SPPG Binamu, Selasa, 19 Agustus 2025.

Hal ini juga tidak lepas dari penyedia Suplayer yang ada di pasar Karisa. Karena bahan baku yang digunakan itu dari daging ayam dan digiling sebanyak 100 kg. Itu untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi penerima manfaat Makanan Bergizi Gratis (MBG) khusus di Kecamatan Binamu dengan menu sehari mencapai 3000 porsi. Mulai dari ibu Hamil, anak usia dini (PAUD) SD, SMP, dan SMA serta satu Kelurahan yakni di Kelurahan Empoang Kota.

Untuk satu porsi menu sarapan Burger hari ini, bagi anak-anak sekolah usia dini hingga orangtua dewasa itu anggarannya Ro10.000, mulai dari daging, sayur sawi, roti dan pisang serta susu.

Sedangkan untuk bagian dapur pengolahan dapur makanan kami memiliki karyawan sekitar kurang lebih 50 orang, itu dibagi dua shift, dan digaji sebesar Rp.100.000 perorang dalam perharinya..”jelas Ikhsan Kepala SPPG

Keterangan serupa disampaikan oleh salah satu anggota di kantor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Binamu, mengatakan bahwa terkait Daging Busuk yang sudah dibagikan itu tidak ada masalah karena saya sendiri sudah mencobanya sebelum di distribusikan ke lapangan. Namun tetap terasa enak dan menurutku itu layak dikonsumsi tanpa ada bau busuk yang menyengat.”ucap salah satu anggota SPPG

Terpisah ketua Lembaga Elang Hitam Nusantara Republik Indonesia (ELHAN RI) Kabupaten Jeneponto, Ramil Sain, Kepada media, Rabu (20/8/2025), sangat menyayangkan dengan adanya kejadian yang ditemukan dilapangan sehingga menjadi suatu persoalan yang cukup memprihatinkan untuk pemenuhan Penyediaan Makanan Bergizi bagi anak-anak sekolah hingga dewasa dan pada orangtua.

Ramil juga menyoroti tentang lemahnya pengawasan dan evaluasi dari pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto tentang program pemenuhan makanan bergizi gratis khususnya di Kecamatan Binamu, termasuk keterlibatan pengawasan dari dinas kesehatan dan lembaga perlindungan konsumen, untuk memastikan standar operasional (SOP) terpenuhi dan menjamin program ini dapat berjalan secara efektif.”ujarnya

Dari pantauan dan penelusuran dikantor SPPG yang berada di kecamatan Binamu terlihat di ruang Pengolahan Makanan, sejumlah tumpukan Kardus yang diduga adalah isinya baku stop daging busuk, namun sengaja disembunyikan dan buru buru disingkirkan dari ruangan tersebut untuk menghilangkan barang bukti.

Karena fakta yang kami temukan dilapangan merupakan hal nyata secara kongret, bahwa ribuan anak-anak sekolah penerima manfaat menjadi korban keteledoran dari pihak penyelenggara maupun kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang seharusnya bisa tetap menjaga standar keamanan pangan hingga proses pendistribusian dan dikonsumsi oleh penerima manfaat. Hal ini tentunya dapat merugikan negara hingga puluhan juta rupiah, yang mengarah kepada tindak pidana korupsi.”tegas ketua ELHAN RI

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto, Syusanty A. Mansyur, SKM., M.Kes, yang dimintai tanggapannya terkait adanya pemenuhan gizi yang dibagikan oleh SPPG kepada penerima manfaat di kecamatan yang tidak memenuhi standar kesehatan karena diduga menggunakan daging busuk dan tidak layak dikonsumsi. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi pihak terkait baik dari lembaga Perlindungan Konsumen maupun Pemerintah Daerah khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto.

(Team_Redaksi)

src="https://beritakotaonline.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_20250923_154141.jpg" alt="" width="957" height="1600" /> >

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *