Opini
Dari Makassar Menembus Batas : Ketika Keraguan Kalah Oleh Sebuah Keberanian , Putra Asal Bone Raih Prestasi Dunia Pendidikan Internasional. ( Bagian 1)
Oleh: Andi Ryaas Saputra Effendy
“True success is not only about what we achieve, but also about who we become along the way.”
Bagian 1: Sebuah Panggilan Tak Terduga di Tengah Lelah
Saya selalu percaya bahwa takdir sering kali datang tanpa mengetuk pintu dengan sopan. Ia kerap menyapa di saat kita merasa paling tidak siap, menguji apakah kita berani melangkah keluar dari zona nyaman.


Dua minggu setelah energi dan pikiran saya terkuras habis dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2026 di Universitas Mercu Buana, ponsel saya berdering.


Sebuah pesan masuk dari Ibu Devira, staf Biro Kemahasiswaan. Beliau menghubungi saya bukan untuk evaluasi, melainkan membawa tawaran yang membuatdada saya berdesir: mewakili kampus dan membawa nama Indonesia dalam ajanginternasional bergengsi, China International College Students’ Innovation Competition (CICSIC) 2026.
Saat membaca pesan itu, ada rasa bangga yang menyelinap, tetapi rasa gentar jauh lebih mendominasi.
“Apakah saya sanggup?” bisik batin saya.
Kala itu, saya sedang menjalani program magang kerja profesional. Membagi waktu antara ritme dunia kerja yang menuntut konsentrasi penuh dan mempersiapkan kompetisi skala global terasa seperti misi yang mustahil. Saya sempat terdiam lama,menimbang antara logika yang menyuruh mundur demi menyelamatkan energi, atau naluri pemimpi yang merindukan tantangan baru.
Di sudut kamar, saya merenung. Nama saya Andi Ryaas Saputra Effendy, seorang pemuda yang lahir dan dibesarkan di tanah Makassar, Kota Daeng yang melahirkan para pelaut tangguh, memegang teguh filosofi luhur: sompa naja lariang lopi (layar telahterkembang, pantang surut ke belakang). Saya telah menyeberangi lautan menuju Jakartabukan untuk menjadi penakut, melainkan untuk menuntut ilmu, berjuang, danmembanggakan keluarga. Apakah seorang anak dari Kota Daeng akan membiarkankeraguan menghentikan langkahnya sebelum bertarung?
Saat itulah sebuah prinsip hidup mengkristal di dalam dada: Nothing to lose.
Lebih baik saya gagal setelah mencoba sekuat tenaga, daripada hidup dalampenyesalan seumur hidup karena tidak pernah berani menerima kepercayaanuntuk membawa nama almamater dan Merah Putih di kancah dunia.”
Dengan tangan yang sempat bergetar namun hati yang kian mantap, sayamembalas pesan itu dan menyetujui amanah besar tersebut.
Bagian 2: Merajut Tim dari Titik Nol dan Lahirnya Sebuah Visi
Perjalanan ini tidak dimulai dengan jalan pintas yang mudah. Sesaat setelahmenyetujui tawaran tersebut, sebuah pesan masuk dari nomor yang belum saya kenal:
Amanda Puspita Sari. Ia mengabarkan bahwa kami berada dalam satu tim.
Kami berdua benar-benar orang asing. Tidak ada riwayat pertemanan sebelumnya,hanya kecanggungan yang sempat menggantung di udara. Belum sempat kamimemantapkan ritme kerja sama, ujian pertama langsung datang: salah satu anggota timkami memutuskan untuk mengundurkan diri. Formasi yang awalnya bertiga, mendadakpincang dan hanya menyisakan saya dan Amanda berdua.
Di sisi lain, Universitas Mercu Buana juga mengirimkan tim kedua yangberanggotakan tiga rekan hebat: Rizky Harumdhany Mamonto, Terrano Putra Utama, danPratama Putra. Ujian keraguan nyatanya tidak hanya menyerang tim saya. Pratama pun
sempat goyah dan berniat mundur. Beruntung, kami memiliki sosok dosen pembimbing.( Bersambung Ke Bagian 2)
Editor : Andi Eka/Andi A Effendy














