BERITA KOTA ONLINE.COM,  KENDAL –Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Terbuka Kelas II B Kendal Rusdedy, nampaknya punya agenda sendiri memanfaatkan waktu luangnya selama Pandemi Covid-19. Disela kesibukannya, Rusdedy nampak senang belajar meracik Kopi Ala Barista.

Yah Minum kopi sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat masa kini. Bahkan orang rela merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan segelas kopi racikan seorang barista di warung kopi ataupun Cafe.

Bagi Rusdedy keinginannya belajar meracik Kopi ala Barista kelak nantinya dapat ia tularkan menjadi sarana alternatif dikalangan warga binaan.

“Kopi saat ini sedang digandrungi. Baik kalangan tua maupun muda. Makanya kafe-kafe kopi bermunculan di Kendal. Untuk itu saya juga berencana membuat kafe di Lapas Terbuka Bangunsari Patebon,” ungkapnya.

Menurut Rusdedy, dengan dibangunnya kafe di Lapas Terbuka, akan bisa mendorong semangat para warga binaan untuk menjadi barista saat sudah bebas nanti. Apalagi sejauh ini Kabupaten Kendal punya Sentra Perkebunan Kopi rakyat yang luas.

“Kabupaten Kendal punya Sentra Perkebunan Kopi rakyat yang luas. Terutama di daerah Kendal bagian atas, tentunya ini bisa membangkitkan semangat pelaku usaha kopi di Kendal,” ujarnya.

Untuk itulah dirinya memanfaatkan momentum belajar meracik Kopi. Ia mengaku rencananya akan menggelar pelatihan Barista kepada para warga binaan agar dibekali keterampilan menjadi barista sekaligus kelak dapat mempromosikan Kopi Khas Kendal Asli Indonesia.

“Selain itu bisa ikut mempromosikan kopi khas Kendal dan memberikan edukasi kepada masyarakat cara meracik kopi yang baik dan bisa dinikmati;” tandasnya.

Rusdedy mengaku senang, saat pertama kali mencoba meracik kopi arabika khas Kendal. Ternyata meracik kopi juga membutuhkan seni yang tinggi untuk menghasilkan rasa yang sempurna. Menurutnya kopi kendal yang diraciknya rasanya nikmat.

“Karena pada saat diterima dan dinikmati kopi racikan kita. Maka ada kepuasan tersendiri disana. Yang penting jangan takut salah karena berawal dari kesalahan akan menemukan kebenaran,” pungkasnya.

Kopi Barista
Kalapas Terbuka Kelas II B Kendal bakal gelar pelatihan keterampilan Barista kepada seluruh warga binaan sebagai salah satu pembinaan selama menjalani masa hukuman di dalam tahanan.

Sementara itu ditempat yang sama, Slamet Priyatin salah seorang pengamat kopi di Kendal membagikan pengalamannya. Menurutnya cita rasa kopi sangat tergantung dari takaran kopi, penggunaan gilingan kopi, juga cara penyajian gelasnya,

“Yang paling menarik ekspresi ketika meminum kopi hasil racikannya,” kata Slamet Priyatin atau yang akrab disapa Lek Pri saat berbincang-bincang santai membahas tentang Kopi Kendal usai shalat tarawih di Lapas Terbuka Kendal, Minggu malam (2/5/2021).

Menurutnya, kopi yang dibuat dengan teknik yang baik dan penuh kesabaran, ternyata nikmat.

“Kita tidak perlu mempelajari jlimet (berbelit), hanya menggunakan feeling saja cara menyeduhnya. Apalagi jika sudah biasa minum kopi jadi tahu takarannya dan ini menjadi kenikmatan tersendiri,” kata Lek Pri. (arya)

Editor : Andi Eka / Robin / Asrat Tella / Syamsul Bakhri As / Syaiful Dg Ngemba / A. AR. Rakhmansya Iskandar / Andi Ahmad

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed