Peta Pilrek UNM 2026 Mengkristal : Tiga Poros Raksasa Siap Berebut Tiket Tiga Besar Senat
Makassar, Beritakota Online -Peta kompetisi Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2027–2031 resmi mengkristal. Pasca-penutupan pendaftaran berkas Oktober ini, tujuh figur terbaik resmi terdaftar sebagai bakal calon rektor. Meski demikian, pengamat dan internal Kampus Oranye memprediksi konstelasi suara akan terkonsentrasi pada pertarungan sengit tiga poros kekuatan utama yang memiliki basis massa paling loyal.

Dr. Muhammad Asdar, S.Sos., M.Si., alumnus S3 Sosiologi UNM (2013), menilai bahwa dinamika politik kampus kali ini jauh lebih kompetitif dibanding periode sebelumnya. Menurutnya, arah masa depan UNM akan ditentukan oleh kelihaian tiga poros utama dalam mengamankan basis suara Senat :
• Poros Birokrasi Pusat (Prof. Dr. Andi Aslinda, M.Si.): Selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik aktif, Aslinda menghentak panggung Pilrek dengan klaim modal awal 26 suara Senat (40,6%). Bergerak bersama gerbong masif guru besar dan dekan senior, ia mengusung target membawa tata kelola UNM berdampak internasional.
• Poros Aliansi Eksakta & Ormas (Prof. Dr. Suwardi Annas, M.Si.): Dekan FMIPA ini tampil mengejutkan dengan menggalang dukungan lintas sektor. Didampingi lima dekan fakultas dan tokoh sentral Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel saat mendaftar, Suwardi mengamankan modal awal 30% suara Senat guna mendorong digitalisasi kampus berbasis kearifan lokal.
• Poros Akar Rumput & Senioritas (Prof. Dr. Hj. Hasmyati, M.Kes.): Mantan Dekan FIKK ini menjadi figur penantang utama dengan loyalitas konstituen akar rumput yang sangat solid. Berbekal rekam jejak manajerial yang kuat, ia membawa misi menjaga stabilitas dan menjadikan UNM sebagai Center of Excellence Kependidikan.
“Kelihaian para kandidat dalam melobi kementerian di Jakarta setelah mengamankan tiket Senat akan menjadi kunci mutlak kemenangan menuju kursi definitif”. Bebernya
Menurut Dr. Asdar meskipun tiga poros ini diunggulkan, mereka dipastikan tidak bisa bersenang-senang. Empat kandidat tangguh lainnya Dr. Arifin Manggau, Prof. Eko Hadi Sujiono, Prof. Sukardi Weda, dan figur eksternal Prof. Ismunandar siap menjadi kuda hitam yang memecah konsentrasi suara. Melihat adanya potensi ancaman nyata dari barisan kuda hitam yang bisa merusak kalkulasi di atas kertas milik tiga poros utama.
Secara sosiologi politik kampus, menurut Dr. Asdar menilai kehadiran empat figur non-poros utama ini memegang peran krusial sebagai penentu (whip voters) karena beberapa alasan strategis :
• Pecahnya Konsentrasi Suara : Dengan total hanya 64 suara Senat, selisih 1 atau 2 suara saja sangat mengubah konstelasi. Keempat kandidat ini memiliki basis loyalitas personal (fakultas asal, jaringan kolega, atau ikatan alumni) yang bisa menyedot suara potensial dari tiga poros besar.
• Daya Tarik Figur Eksternal : Kehadiran Prof. Ismunandar (ITB) (seorang akademisi senior dari Institut Teknologi Bandung/ITB yang juga memiliki rekam jejak kuat di birokrasi nasional seperti Kemendikbudristek/BRIN) sebagai figur eksternal memberikan beberapa dampak strategis bagi peta suara Senat UNM. Senat yang menginginkan perubahan radikal atau netralitas dari faksi birokrasi internal berpotensi mengalihkan dukungannya ke sini.
• Posisi Tawar di Putaran Kedua : Jika tidak ada poros yang dominan mutlak pada penyaringan 9–10 November 2026, suara yang tercecer di empat kandidat ini akan menjadi rebutan. Mereka akan menjadi kunci “perjudian” koalisi sebelum 3 nama final dikirim ke Jakarta untuk memperebutkan 34 suara Menteri.
“Oleh karena itu, situasi ini memaksa Poros Aslinda, Poros Suwardi, dan Poros Hasmyati untuk terus bergerak agresif dan tidak boleh lengah hingga hari pemungutan suara tiba.” Pungkas Dr. Asdar
Menghitung Hari Menuju Kursi Definitif
Pertarungan sesungguhnya akan dimulai pada tahapan penyaringan Senat. Panitia Pilrek dijadwalkan mengerucutkan ketujuh nama ini menjadi hanya tiga nama calon rektor untuk dikirim ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 9–10 November 2026.
Penentuan akhir akan terjadi pada pemungutan suara final tanggal 17 Desember 2026. Mengingat regulasi membagi porsi kekuasaan 65% Suara Senat UNM dan 35% Suara Menteri, alokasi akhir secara resmi berjumlah 98 suara (64 suara Senat UNM dan 34 suara Menteri). Kelihaian para kandidat dalam melobi kementerian di Jakarta setelah mengamankan tiket Senat akan menjadi kunci mutlak kemenangan menuju kursi definitif.
Secara regulasi, formulasi alokasi 98 suara (64 suara Senat UNM dan 34 suara Menteri) merupakan cerminan nyata dari sistem double-gatekeeping (dua pintu penyaringan) dalam pemilihan rektor di perguruan tinggi negeri.
Konstruksi politik ini membagi kontestasi menjadi dua fase taktis yang sangat berbeda bagi para kandidat:
1. Fase Domestik : Mengamankan “Tiket” 3 Besar Senat
Sebelum melangkah ke Jakarta, para kandidat harus lolos dari lubang jarum internal pada penyaringan awal Senat. Porsi 65% (64 suara) mengharuskan calon memiliki basis dukungan riil dari para dekan, guru besar, dan perwakilan dosen di tingkat universitas. Pada fase ini, isu-isu lokal, konsolidasi faksi birokrasi, dan komitmen tata kelola internal kampus menjadi komoditas lobi utama. Kandidat yang gagal mengamankan dominasi suara di Senat akan kehilangan posisi tawar (bargaining power) saat namanya disetor ke kementerian.
2. Fase Nasional : Pintu Penentu Kemendiktisaintek di Jakarta
Setelah tiga nama terbaik hasil penyaringan Senat dikirim ke Jakarta pada November 2026, dinamika politik bergeser total. Blok 35% (34 suara) milik Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersifat monolitik artinya suara tersebut biasanya diberikan secara utuh kepada satu kandidat yang direstui secara politis dan administratif.
Menurut analisis Dr. Asdar bahwa kelihaian lobi di Jakarta pasca-amankan tiket Senat menjadi kunci mutlak karena :
• Penentu Kemenangan Mutlak : Kandidat yang menjadi jawara di tingkat Senat belum tentu aman. Jika suara kementerian (34 suara) dialihkan secara penuh kepada peraih suara kedua atau ketiga di Senat, konstelasi langsung berbalik secara radikal.
• Keselarasan Makro : Kementerian akan melakukan track record checking (penelusuran rekam jejak). Lobi di Jakarta bukan sekadar kedekatan politik, melainkan kemampuan kandidat meyakinkan birokrasi pusat bahwa visi-misinya (seperti konsep Corporate University atau internasionalisasi kampus) sejalan dengan program strategis nasional kementerian.
“Pada akhirnya, pemungutan suara final tanggal 17 Desember 2026 bukan sekadar kalkulasi matematis di atas kertas, melainkan ujian akhir bagi kandidat dalam menjembatani kepentingan stabilitas internal kampus (Senat) dengan arah kebijakan makro pemerintah pusat (Menteri)”. Kuncinya ( Andi Arya Rachmansyah)
Editor : Andi Eka











