oleh

SAdAP : Siswa Siswi Banyak Frustasi Karena Sistem Belajar Online, Desak Kepala Daerah Segera Inisiatif Buat Regulasi Tersendiri

Jakarta, Beritakota Online-Pandemi covid 19 yang kian runyam melahirkan banyak masalah baru, salah satunya terkait dunia pendidikan yang ikut menjadi persoalan krusial, dimana model sistem pembelajaran dilakukan secara online.

Tokoh Masyarakat Sulsel di Jakarta : Syarifuddin Daeng Punna Berkomentar Terkait Dengan Sistim Belajar Online Saat ini dan Sudah Memakan Korban Siswinya Bunuh Diri Dengan Tugas Menumpuk dari Gurunya

Hal ini mendapat beragam tanggapan dari masyarakat yang sudah mulai jenuh dengan terapan yang dibuat oleh menteri pendidikan Nadiem Makarim.

Kejenuhan yang muncul tentu berdampak negatif, apalagi sistem online diberlakukan secara menyeluruh disemua tingkatan dari SD hingga mahasiswa.

Khusus murid SD, tentu secara psikis akan terganggu bila terus menerus belajar dengan sistem online, padahal dimasa SD para siswa difokuskan pada kebutuhan Psikomotorik, kognitif dan afektif yang harus terpenuhi melalui belajar secara tatap muka.

Teekait masalah tersebut, Syarifuddin Daeng Punna tokoh masyarakat Sulsel yang sering disapa SAdAP ini mengemukakan pendapatnya terkait lambannya respon menteri pendidikan dalam melihat realitas belajar mengajar dengan sistem online dimana sudah banyak siswa bahkan orang tua siswa yang frustasi akibat dampak yang ditimbulkan oleh sistem belajar online.

Saya geram ketika mendapat informasi di kampung halaman saya di desa Bonto Mene Kecamatan Mamuju Kabupaten Gowa ada seorang siswi sekolah yang depresi karena tidak sanggup lagi mengikuti belajar online dengan tugas yang sangat menumpuk dari Gurunya sementara terkendala juga masalah jaringan internet yang kurang bagus didaerah ketinggian itu dan pada akhirnya mengakhiri hidupnya, sunggu sangat memiriskan terang SAdAP.

Saya sesalkan menteri pendidikan yang tidak progressif dalam menata ulang sistem pendidikan dimasa pandemi, padahal berulang kali saya sarankan dimedia agar pola belajar mengajar kembali diterapkan dengan cara tatap muka namun dengan catatan menggunakan sistem shift hingga sore hari, atau dengan durasi 2 jam per kelas dengan dibagi jumlah siswa sesuai protap covid 19, tapi kok seorang menteri tidak mampu melakukan hal itu, apa susahnya kebijakan itu dikeluarkan tukas SAdAP.

Kalau kemudian pihak kementerian tidak respect, sebaiknya menterinya mengundurkan diri saja, karena tidak mampu membuat terobosan di masa sekarang ini.

Saya juga menyarankan agar kepala daerah berinisiatif untuk membuat regulasi yang mengatur tentang sistem pendidikan tatap muka diterapkan kembali demi memenuhi berbagai saran dari masyarakat, dengan mengedepankan monitoring secara berkala melalui pengawasan secara ketat di sekolah, tidak usah mengikuti menteri yang kurang peka melihat realitas di tengah masyarakat yang sudah mulai frustasi dengan kebijakannya tutup SAdAP.

Editor : A.AR.Rahmansya/Andi Eka/Asrat Tella/Syamsul Bakhri/Andi A Effendy

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed