23 July 2017

Ikatan Wartawan Online Kecam Kekerasan Terhadap Wartawan Antara

20 - Jun - 2017 | 19:40 | by: Admin1
Ikatan Wartawan Online Kecam Kekerasan Terhadap Wartawan Antara

Jakarta, Beritakota Online-Antara menyesalkan kekerasan yang dialami Ricky Prayoga saat menjalankan tugasnya di arena Indonesia Open Super Series di JCC. Ricky mengalami kekerasan saat sedang melakukan tugas peliputan mengalami penganiayaan dari oknum Brimob.

Pada Minggu (18/6) sore, Ricky ditatap terus saat mengambil uang di ATM di sekitar JCC. Tatapan menyelidik itu kemudian ditanyakan Ricky ke oknum Brimob bernama Adam.

Bukannya penjelasan, malah kata-kata makian. Bahkan sampai ke luar kalimat ‘Berani melawan petugas? Kukokang kau”.

Tidak lama Ricky dipiting. Beberapa oknum Brimob yang lain datang dan juga membawa Ricky. Beruntung ada anggota Brimob senior yang mendamaikan.

Namun atas kasus ini, Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Meidyatama Suryodiningrat, yang akrab disapa Dimas menyesalkan tindakan oknum aparat yang melakukan kekerasan kepada wartawan yang sedang menjalankan tugasnya.

“Saat ini kami menyesalkan bahwa ada pihak-pihak yang masih menggunakan cara kekerasan untuk menghadapi wartawan yang menjalankan tugasnya sesuai dengan Undang-Undang Pers,” demikian pernyataan Meidyatama Suryodiningrat, seperti dilansir antara, Senin (19/6).

Dimas mengatakan hal utama yang menjadi prioritas saat ini adalah memastikan kondisi kesehatan dan keselamatan wartawan yang menjadi korban tersebut.

“Saya baru saja dapat laporannya. Prioritas kami yang pertama adalah keselamatan dan kesehatan wartawannya,” tambahnya. “Setelah itu kami akan konfirmasi rentetan kejadian dan penyebabnya,” tambah Dimas.

Dimas menyatakan akan segera menentukan langkah selanjutnya terkait insiden tidak mengenakkan yang dialami Ricky Prayoga.

“Baru setelah itu kita akan tentukan langkah sesuai ketentuan yang ada dan memungkinkan,” beber Dimas.

“Soal pelaporan dan lain lain, nanti kami akan follow-up. Saya sedang cek kondisi wartawannya dulu, itu yang terpenting,” tutur Dimas.

Ricky Prayoga menyatakan kondisi fisiknya baik-baik saja kendati merasakan sedikit nyeri. “Kondisi fisik saya baik-baik, tapi adalah beberapa nyeri mungkin karena ada yang tertarik atau mengenai sesuatu dari pakaian mereka,” kata Ricky Prayoga.

Sementara menurut Dewan Pengawas Antara Boni Hargens, sebagai dewan pengawas, dirinya menyesali insiden tersebut.

“Ini bisa dinilai sebagai preseden buruk yang merusak citra kepolisian. Namun, saya juga tidak ingin kejadian ini merusak hubungan baik LKBN Antara dengan institusi kepolisian, khususnya dengan Brimob. Secara manusiawi, kami memahami bahwa anggota kepolisian juga lelah, mereka bekerja keras menjaga keamanan, sehingga terkadang bereaksi secara berlebihan dalam situasi seperti dalam kejadian tadi,” beber Boni dalam keterangan persnya.

Menurut Boni, LKBN Antara tetap berpikir positif dan percaya bahwa institusi kepolisian mempunyai komitmen yang kuat dalam menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan pers. Dalam kasus ini, kepolisian tentu tahu apa yang harus dilakukan dalam merespons kejadian ini.

“Apalagi Pak Tito Karnavian sangat komit dengan demokrasi dan penegakan hukum. Namun, kami meminta kepada semua pihak untuk tidak membesar-besarkan kejadian ini. Kejadian ini tidak mencerminkan citra kepolisian sebagai institusi. Ini hanya insiden situasional yang melibatkan satau-dua oknum di tubuh kepolisian, maka janganlah kasus ini digeneralisasi apalagi dijadikan alasan untuk menghakimi kepolisian. Apalagi ini bulan suci Ramadhan, tentu jiwa besar dan keiklasan untuk saling memaafkan lebih diutamakan,” urai Boni.

“Korban saudara Ricky Prayoga, sebagai wartawan Antara, tentu akan diberi perhatian dan perlindungan hukum yang optimal. Itu adalah komitmen Antara sebagai perusahaan dalam melindungi karyawannya. Namun, saya berharap apapun dampak dari peristiwa ini secara hukum, kiranya tidak akan mengganggu citra kepolisian dan tidak merusak hubungan baik kepolisian dengan media, khususnya dengan LKBN Antara,” tutup Boni.

Atas peristiwa tersebut Pimpinan Pusat IWO menyatakan sikap :

1. Aksi kekerasan atau “koboi jalanan” tidak boleh dilakukan oleh siapapun dan kepada siapapun di negara ini.

2. Tindakan kekerasan terhadap wartawan yang dilakukan aparat penegak hukum hanya menambah catatan hitam dalam sejarah kekerasan yang dialami wartawan. Karena, IWO mencatat hampir 62 persen kekerasan yang dialami wartawan dilakukan oleh oknum pejabat negara/aparatur pemerintah (PNS, Militer, Polri dll).

3. Meminta Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian meminta maaf secara terbuka atas perilaku anak buahnya yang diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap wartawan LKBN Antara tersebut.

4. Dalam melaksanakan tugas jurnalistik wartawan dilindungi Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Pelaku bisa dipidana dan atau denda maksimal Rp 500 juta.

5. Mendorong agar managemen LKBN Antara melaporkan kasus kekerasan yang dialami wartawannya saat melakukan peliputan itu ke aparat pengak hukum. Hal itu penting dilakukan untuk memberikan efek jera terhadap siapapun pelaku kekerasan.

6. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Wartawan Online siap melakukan pendampingan hukum terhadap wartawan yang mengalami tindak kekerasan dimanapun.

Jakarta, Senin, 18 Juni 2017

Ketua Umum IWO
Jodhi Yudono

Sekretaris Jenderal
Witanto

Editor : Marwan/Muh Basri/Andi A Effendy

 


BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Berita Pilihan,Berita Terkini,Nasional,Polisi | Responses are currently closed, but you can TRACKBACK .

Comments are closed.

Kategori Berita Pilihan

Kategori Berita Terkini

Kategori Nasional

Kategori Polisi