2 December 2016

Sosialisasi Penghapusan Pekerja Rumah Tangga Anak Kerja sama Lembaga Perlindungan Anak Sulsel.

5 - Oct - 2016 | 21:18 | by: Admin1
Sosialisasi Penghapusan  Pekerja  Rumah Tangga Anak Kerja sama Lembaga Perlindungan Anak  Sulsel.

Makassar, Beritakota Online-Majelis taklim Ulul ilmi Komp. Jipang Permai Makassar rutin melakukan pertemuan bulanan yang diisi dengan zikir dan ceramah agama. Yang menarik dan agak berbeda bulan ini adalahpertemuan rutin itu diisi dengan Sosialisasi Penghapusan  Pekerja  Rumah tangga Anak (PRTA) bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel.

Acara ini dilaksanakan pada Selasa, 04 Oktober 2016 di rumah salah satu warga komp. Jipang Permai, dengan dihadiri anggota dan pengurus RW dan Majelis Taklim yang berjumlah sekitar 30  orang.

Kegiatan sosialisasi penghapusan PRTA ini adalah tindak lanjut dari lokakarya penguatan peran tokoh agama dalam mempromosikan kerja layak bagi PRT dan penghapusan PRTA yang telah dilakukan sebelumnya pada tanggal 4 Mei 2016 di hotel Remcy Makassar.

Sebagai tindak lanjut dari lokakarya tersebut, LPA ingin memastikan bahwa komitmen peserta lokakarya untuk terus menyuarakan isu penghapusan PRTA terus berkelanjutan.

Warida Safie (LPA Sulsel) saat diberi kesempatan untuk bersosialisasi di tengah jama’ah menyampaikan beberapa point penting terkait keberadaan PRT anak.

Ida mengawali penyampaiannya dengan menginformasikan bahwa PRTA dikategorikan sebagai salah satu bentuk pekerjaan terburuk bagi anak yang berusia dibawah usia 18 tahun.

Mengutip data ILO, Ida  menyampikan bahwa berdasarkan analisis data Survey angkatan Kerja Nasional (Sakernas) diasumsikan terdapat 110,000 anak usia 15 – 17 yang bekerja sebagai PRT dari total 2,5 juta orang PRT di Indonesia pada tahun 2012. Jumlah ini tentunya  terus bertambah jika tidak ada pengawasan dari instansi yang berwenang.

Hal ini dikarenakan PRTA bekerja di ruang-ruang domestik sehingga sangat sulit untuk dipantau. Kondisi ini tentu membuat mereka sangat rentan mengalami kekerasan dan eksploitasi dari majikan atau siapa saja yang berada didalam rumah majikan.

PRTA juga melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa seperti memasak, mencuci, mengepel, menjaga bayi dan bekerja di bawah jam kerja yang sangat panjang. Hal ini tentu akan berdampak buruk terhadap hak anak untuk tumbuh kembang dengan baik dan mengenyam pendidikan. Selain itu, hak anak atas kesehatan dan bersosialisasi dengan lingkungannnya tentu dilanggar jika dipekerjakan sebagai PRT. Dan anak juga paling rentan mengalami kekerasan (fisisk, fsikis dan seksual) dan eksploitasi. Kasus-kasus demikian akan sangat mudah didapati melalui pemberitaan di berbagai media.

Salah seorang peserta menanyakan kemana dan apa yang harus dilakukan bila menemukan kasus PRTA. Ida merespoan bahwa persoalan PRTA memang masalah lintas sektor (pemerintah, Non Pemerintah, masyarakat dst) yang sebaiknya ditangani secara bersama. Ditambahkan bahwa, hal yang utama yang harus dilakukan adalah membangun komitmen personal untuk tidak mempekerjakan anak-anak sebagai PRT dan jika mendapati ada PRTA maka disarankan untuk berkoordinasi dengan RT/RW setempat. Selain itu, Ida juga melengkapi informasi yang disampaikan dengan membagikan brosur yang berisi informasi lengkap tentang isu PRTA dan tempat untuk melapor jika mendapati ada kasus terkait PRT Anak .

Di sesi penutupan, ketua Majelis taklim (Ibu Untung) sangat berterimakasih atas apa yang LPA Sulsel lakukan yakni  dengan melibatkan tokoh-tokoh Agama untuk sosialisasi Penghapusan PRTA ini dan juga issu lain. ( Azis Umar)

Editor : Andi A Effendy


BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Berita Pilihan,Berita Terkini,Daerah | Responses are currently closed, but you can TRACKBACK .

Comments are closed.

Kategori Berita Pilihan

Kategori Berita Terkini

Kategori Daerah